Penggemar Kimetsu No Yaiba pastinya sedang menunggu kedatangan Kimetsu No Yaiba season 2. Tapi dikarenakan ada virus corona, akhirnya season 2 dari Kimetsu No Yaiba ditunda. Meski season 2 belum bisa dinikmati para penggemar Kimetsu No Yaiba, namun ulasan-ulasan seputar Kimetsu No Yaiba season 1 begitu masif. Pasalnya, Kimetsu No Yaiba terkenal akan grafiknya yang ciamik. Selain dari segi vidiografinya, pengisahan ceritanya tidak naif; development karakternya tidak tiba-tiba. Bahkan, ketika diulas lebih jauh, Kimetsu No Yaiba tengah membawa isu kebudayaan Jepang serta sejarah perpindah Era Meiji ke Taisho.

Karena ulasan-ulasan itu, banyak misteri terungkap dari Kimetsu No Yaiba. Meski kebanyakan ulasan cenderung spoiler, namun ketika ditonton setelah membaca ulasan. Ke khawatiran itu justru tidak terjadi sama sekali. Hal itu disebabkan, Kimetsu No Yaiba yang ditulis manganya oleh Koyoharu Gotoge dan terbit pada 15 Febuari 2016 ini berhasil membangun imajinasi pembaca. Tidak sampai di situ. Keberhasilan Koyoharu dilanjutkan oleh Ufotable. Studio yang menggarap Fate/Zero ini mampu mempertahankan imajinasi dari manganya untuk disajikan pada penonton.

Tanjiro dan Keterkaitan Sejerah Jepang Era Taisho

Pasti kalian masih teringat suasana rumah Tanjiro dan keluarganya yang terletak di kaki gunung. Suasana yang asri, jauh dari kebisingan jeritan kelaparan serta ancaman caci maki atas kemiskinan. Namun, latar waktu di Kimetsu No Yaiba tidak jelas. Kapankah berlangsungnya cerita ini terjadi?

Ketika kalian membaca ulasan yang berpesan bahwa Kimetsu No Yaiba itu mengambil latar waktu setelah era Showa dan Meiji usai, yakni Taisho. Tapi apa buktinya? Ternyata, latar waktu di Kimetsu No Yaiba itu pada awal era Taisho. Namun, jawaban ini masih belum akurat. Karena, diangkat dari cerita rakyat.

Dari cerita rakyat yang didokumentasikan oleh beberapa literatur. Pada awal era Taisho, sedang beredar isu demon pemakan manusia. Tapi, orang-orang pada saat itu tidak percaya karena, ya korbannya saja langsung mati. Jadi tidak ada saksi hidup. Seperti di awal cerita, saat Tanjiro pergi ke desa untuk menjual arang. Ketika diperjalanan pulang. Ia tertahan oleh badai salju yang membuatnya terpaksa menginap di salah satu rumah warga dekat kaki gunung.

Saat badai salju sudah reda. Ia hendak melanjutkan perjalanan pulangnya. Tapi, pemilik rumah itu bersikeras menahan Tanjiro. Ia memperingatinya bahwa malam hari Oni atau demon pemakan manusai berkeliaran. Namun Tanjiro tidak percaya akan hal itu. Faktanya ia yang tinggal di kaki gunung, hanya satu rumah pula di sana, tidak pernah melihat langsung keberadaan Oni. Hanya saja ia tidak enak oleh orang tua itu atas kebaikan hatinya menawarkan tempat menginap. Akhirnya Tanjiro menyerah pada keyakinan itu dan menginaplah.

Keesokan harinya Tanjiro bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulangnya. Ketika sampai di rumah ia dikagetkan dengan potongan mayat keluarganya. Darah berhamburan, mengalir di atas salju sehingga jelas terlihat merah laksana amarah. Tanpa pikir panjang ia berlari terpogoh-pogoh menghampiri mayat keluarganya. Dalam pikirannya hanya satu yang terlintas. Berharap masih ada yang selamat. Tapi sayang, sepanjang ia mencari di sekitaran rumahnya. Hanya terdapat genangan darah dan tatapan kosong ke langit rumah dari mayat ibunya.

Ketika ia merengkuh dadanya menahan isak tangis. Terdengar suara seretan badan menyentuh salju. Seketika Tanjiro melirik ke arah suara itu. Berlarilah ia dengan tertatih-tatih menghampiri Nezuko, adiknya. Ketika dipeluknya, Nezuko terlihat asing. Hawa keberadaan manusiannya samar. Sedikit terperangah. Tapi pikiran Tanjiro, tak pernah ada yang tahu. Yang jelas Ia berusah memeluk Nezuko dengan harapan yang mulai muncul di dadanya.

Setiap kali ia mendekati Nezuko. Saat itu juga Nezuko menjauh seperti seekor rusa hendak diberi makan. Rasanya, Nezuko seperti dikuasai insting hewani yang menanggap sentuhan manusia adalah ancaman. Saat mereka bersitegang. Giyu Tomioka melancarkan seranganya pada Nezuko. Tapi Nezuko seperti bukan Nezuko. Ia mampu menghindar pisau lempar milik Giyu.

Sebetulnya Giyu, seorang pemburu iblis/demon slayer/Kimetsu No Yaiba, tahu bahwa Nezuko telah menjadi Iblis. Namun, kebingungan Tanjiro tidak membuatnya membeku meski di bawah lebatnya salju. Ia dengan gagah melindungi Nezuko. Ketika Tanjiro diserang oleh Giyu karena baginya, Oni harus dilenyapkan. Tak ada pilihan, Giyu pun berniat melumpuhkan Tanjiro. Tapi saat Tanjiro terkena serangan fatal pada titik saraf kesadarannya. Nezuko melindunginya. Giyu pun terperangah akibat ulah Nezuko.

Ia memandang mereka, saling melindungi. Padahal, keduanya adalah mangsa dan pemangsa. Tapi, kali ini berbeda. Oni, Nezuko, tidak memangsa Tanjiro. Tanpa pikir panjang. Ia melakukan serangan kembali dengan niatan melumpuhkan Tanjiro supaya bisa terjalin obrolan. Tanpa mempertimbangkan. Ia menggunakan teknik pernapasan. Tanjiro, langsung teringat pada mendiang Ayahnya akan teknik itu. Lengah sudah pertahanan Tanjiro.

Giyu pun langung membicarakan intinya. Bahwa Nezuko telah terinfeksi. Dan ia bukan manusai lagi. Namun, Tanjiro bersikeras akan mencari orang yang bisa mengembalikan kemanusiaan Nezuko. Karena peritiwa tadi. Giyu percaya bahwa Nezuko lain dari Oni pada umumnya. Sebab ia masih bisa mempertahankan kesadarannya seperti menyelematkan Tanjiro. Karena khawatir, kesadaran itu akan lenyap di suatu hari dan melihat tekad serta tanda hitam di dahi Tanjiro. Giyu mempercayakan Tanjiro untuk mencari cara mengembalikan Nezuko. Giyu pun mengarahkan Tanjiro untuk berguru pada gurunya.

Perjalanan Tanjiro dan Nezuko bermula ketika bertemu guru Giyu. Tanjiro dilatih menguasai teknik pernapasan. Sedangkan Nezuka berlatih menguasai diri sendiri. Bentuk latihan ini salah satu isu kebudayaan Jepang. Ketika seroang samurai hendak menguasai teknik berpedang. Ia mesti menguasai medan tempur dan memahami potensi diri untuk menciptakan teknik pernapasan.

Kalian tahu betul ketika Tanjiro dilatih oleh gurunya. Ia dipaksa mengenal lebih jauh arti dari menarik dan menghembuskan napas. Latihan pernapasan sebagai awal langkah memahami potensi diri. Sebab napas adalah awal dan akhir kehidupan. Tentunya kalian masih ingat bahwa hasil latihan ini, Tanjiro dapat menguasai teknik pernapasan air. Namun bedanya dengan samurai terletak pada penamaan teknik. Di samurai hanya disebutkan teknik pernapasan saja.

Seusai berlatih dengan gurunya Giyu, Tanjiro diarahkan olehnya untuk menjadi seorang pembasmi iblis/demon slayer/kimetsu no yaiba. Maka, untuk mengembalikan Nezuko, ia harus memahami iblis atau dengan kata lain lebih dekat dengan mereka.

Nezuko dan Blood Demon Art

Seiring perjalanannya, Tanjiro mulai memahami cara hidup Nezuko saat menjadi Oni. Pemahaman itu yang membuat Tanjiro dan Nezuko menjadi semakin solid dalam menghadapi pertarungan. Sebab, mereka telah mengenal potensi satu sama lain dan kelemahannya. Nezuko yang telah dilatih oleh gurunya Giyu mampu bertahan hidup tanpa memangsa manusia. Malahan ia menguasai teknik unik yang disebut blood demon art.

Perjalanan Nezuko sebetulnya tidak hanya mendapatkan teknik blood demon art, tapi ada hal lain. Nezuko yang seorang Oni, dalam perjalanannya banyak menemui orang yang beberapa diantaranya menjadi patner perjalanan Nezuko dan Tanjiro. Seperti Zenitsu Agatsuma dan Inosuke Hashibira. Pertemuan dengan mereka menimbulkan kesan hangat sekalipun Nezuko tengah untung repot mempertahankan akal dan perasaan manusiawinya. Selain mereka, tepatnya di tengah cerita, Nezuko bertemu dengan Dr Tamayo. Ia seorang Oni yang telah memangsa semua keluarganya.

Ketika adegan kilas balik, dokter Tamayo baru sampai di rumahnya. Saat itu pula munculah Muzan, seorang Oni yang mengenakan toxedo dengan gaya rambut dan topi ala Michael Jakson di awal era Taisho. Tamayo akhirnya dijadikan seorang Oni. Tapi ia bisa dikendalikan oleh Muzan. Di malam yang penuh isak itu. Dokter Tamayo mendapatkan perintah pertamanya. Ia diperintah untuk memulai kehidupannya dengan makan malam bersama Muzan. Dari situlah, keluarga Tamayo dibunuh untuk dijadikan kudapan malam mereka.

Mendengar kisah itu, Nezuko tak bereaksi apa pun selain menghempaskan dirinya pada sore di kaki gunung bersalju. Tapi ada satu hal yang membuat Nezuko penasaran. Dokter Tamayo kini bisa hidup tanpa memangsa manusia dan tak khawatir oleh sinar matahari. Seolah-olah Tamayo bukanlah seorang iblis. Akhirnya, Nezuko bisa belajar dari Tamayo bagaimana bertahan hidup menjadi Oni yang manusiawi. Perjalanan Nezuko dalam pengobatannya tidak buntu sampai di situ. Ia terus memahami makna kehidupan Oni dan manusia dalam setiap perjalanannya.

Kimetsu No Yaiba, sekilas alur ceritanya lurus saja tanpa ada teka-tekia alur yang berpindah-meloncat. Pengisahan Kimetsu No Yaiba mencerigakan Tanjiro yang hendak mencari cara dan orang untuk menyembuhkan Nezuko. Sepanjang perjalanannyaTanjiro, kita malah lupa dengan tujuan awalnya. Karena banyak persoalan yang dihadapi Tanjiro ketika dinyatakan sah sebagai demon slayer/kimetsu no yaiba/pembasmi iblis, hingga akhirnya, cerita seolah berfokus pada Tanjiro dengan cerita yang lain.

Nah di sini letak keseruan Kimetsu No Yaiba. Anime ini bisa menghisap kita pada imajinasi yang sebetulnya tidak ada. Seperti imajinasi bagaimana Tanjiro menjadi penakluk iblis seperti Muzan yang menaklukan pembasmi iblis. Padahal perpindahan cerita dan konflik itu sebagai perpindahan cara pengobatan Nezuko. Masih inget?