Review

Astolfo

Kairi Sisigou tiba di sekolah sihir; sekolah itu pula tempat berkumpulnya asosiasi penyihir. Kata sang empunya cerita, Kairi Sisigou pun salah satu anggota asosiasi penyihir. Sepulang dari sana, ia diperintahkan untuk mengikuti great holy grail war.

Astolfo’s facing to Modred

Fate/Apocrypha, rulesnya berbeda. Jika di spin off fate/stay night hanya terdapat lima master dan servant; untuk memenangkannya harus mengalahkan keempat servant, ketika hanya tersisa satu master dan servant, merekalah pemenangnya. Fate/Apocrypha berbeda. Pertarungan di great holy grail war berisikan 14 servant dan master yang dibagi menjadi dua fraksi; fraksi hitam dan merah.

Kairi Sisigou melakukan summon/pemanggilan roh pahlawan yang disebut servant. Beruntungnya, ia mendapatkan servant yang terkuat dari kelas Saber, Modred—anaknya King Arthur di legenda Great Britania. Oh iya, Kairi Sisigou berada di fraksi merah, yang mana mereka adalah asosiasi penyihir yang misinya membenahi great holy grail war.

Sedangkan Fraksi hitam bertujuan untuk menyempurnakan sihirnya dan mempertahankan kejayaan. Mereka, fraksi hitam, pun sama halnya dengan fraksi merah. Jika fraksi merah adalah kumpulan dari asosiasi penyihir. Mereka adalah keluarga besar Yggdmillennia.

Pada series ini, ada hal yang menjadi spectacle; penonton akan dibuat menjadi orang yang ragu. Series ini memaksa kita untuk memilih siapa pemeran utamanya atau tokoh protagonis. Pasalnya, ke dua fraksi memiliki niat yang universal; menyelamatkan umat manusia.

Seperti pada episode awal. Master dari Modred dan fraksi merah tengah merencanakan bagaimana merebut cawan suci pada great holy grail war sebagai siasat agar tidak didapatkan oleh master yang kontra pada kedamaian dunia. Pengisahan pada fraksi merah membuat penonton setuju atas niatnya. Misalnya saja ketika fraksi merah mengisahkan perilaku keji yang dahulu telah dilakukan oleh fraksi hitam— keluarga Yggdmillennia.

Namun hal ini lenyap seketika saat cerita berfokus pada fraksi hitam. Pada scene ini, servant kelas rider, Astolfo menjadi perwajahan bagaimana maksud dari fraksi hitam. Meskipun di tengah cerita, Astolfo dianggap mengkhianati fraksinya karena menyelamatkan homonculus. Ia memberi jalan untuk kabur bagi homonculus yang bernama Sieg agar tidak dijadikan senjata. Niat Astolfo demikian supaya Sieg dapat menjadi manusia yang utuh, seperti manusia pada umumnya—memiliki harapan untuk terus hidup.

Seiring berjalannya cerita, kita tetap tidak menentukan siapa tokoh utama dalam fate/apocrypha. Namun, di series ini kita akan terhisap pada keingin tahuan atas karakter Astolfo. Pasalnya, development karakter Astolfo tidak ada. Berbeda dengan Amakusa Shirou Tokisada yang di awal episode ia adalah seorang yang tenang dan di akhir cerita ia begitu ambisius.

Awal cerita bermula karakteristik Astolfo begitu optimis, akhir cerita pun sama. Kemudian, pemikirannya tetap tunggal. Seolah karakter yang plate namun penuh misteri. Bahkan gender Astolfo misteri. Meski ada banyak reviwer menyatakan bahwa ia adalah seorang lelaki yang senang berpenampilan wanita. Akan tetapi hal ini pun hanya pandangan subjektif penonton yang pertimbangannya dari literature terkait legenda Astolfo.

Masih di awal cerita; Astolfo satu-satunya servant yang mengenalkan nama aslinya, baik pada fraksinya maupun fraksi lawan. Padahal, prinsip para servant mengungkapkan nama asli itu adalah hal yang berbahaya. Karena, ketika lawan mengetahui nama, mereka akan langsung mengetahui kelemahan para servant. Namun hal ini ternyata tidak berefek pada Astolfo. Sebab, legenda Astolfo begitu banyak dan sulit ditemukan mana yang benar. Hingga akhirnya, kelemahan dia tidak pernah bisa diidentifikasi.

Maka dari itu, artikel ini akan lebih menyoroti tentang Astolfo. Karena, perbincangan tentang plot, development karakter, visual, dan element-elementa pada filmnya bukanlah hal yang unik. Hanya saja, yang membuat Fate/Apocrypha jadi special itu dikarenakan keberadaan Astolfo yang penuh misteri. Meski ada scene kilas balik Astolfo, tetap saja hal itu tidak menjawab.

Servent kelas Rider di series Fate/Apocrypha ini paling menonjol dibeberapa episode series Fate. Meskipun tidak sekuat Modered, tapi karakter rider sebagai penentu berjalannya cerita. Tapi, ada hal yang membuat karakter rider ini menjadi unik. Maka dari itu, kita bakal ngupas tuntas si servant kelas rider di series Fate/Apocrypha ini.

Rider adalah servantnya Celenike Icecolle Yggdmillennia dari fraksi hitam di Great Holy Grail War. Tapi setelah Masternya—Celenike Icecolle mati karena dipenggal oleh Modred. Rider yang bernama Astolfo membuat kontrak dengan Sieg sang homoncolus. Hingga film selesai Astolfo tetap menjadi servantnya Sieg. Di sinilah petualangan Astolfo bermula.

Sebelum masuk pada perjalanan Astolfo bersama Sieg. Ada yang harus diperhatikan terlebih dahulu, yaitu tentang identitas Astolfo yang samar di series Fate/Aprocrypha. Pasalnya ia satu-satunya servant yang berani mengungkapkan namanya pada servant lain. Juga, ia satu-satunya servant yang lupa dengan noble phantasmnya. Padahal, noble phantasm adalah senjata utama atau ultimate dari setiap servant.

Maka, dua hal ini menjadi perhatian dari setiap penonton untuk mengetahui apakah lupanya noble phantasm karena ada cerita dibalik cerita dan mengungkapkan nama pada servant lain karena tidak mengetahui rule dari Great Holy War. Lalu kenapa jika servant tidak mengetahui rules dari Great Holy Grail War? Janggal tentunya. Karena, servant yang dipanggil untuk memenuhi Great Holy Grail War sudah dibekali rulesnya. Malahan, servant lebih mengetahui ketimbang masternya.

Profile Astolfo Identify

Nama asli rider adalah Astolfo. Ia salah satu dari dua belas Paladin di Charlemagne dan juga seorang anak dari Raja Inggris. Pada legendanya, Astolfo diceritakan sebagai salah satu Paladin di Charlemagne yang terkenal tampannya. Namun, ia senang berpenampilan layaknya wanita.

Selain wujudnya yang menawan, ia pun disebut sebagai anggota Paladin yang paling optimis. Tapi karena sikap optimisnya tak pernah redup. Ia kerap kali dinilai sebagai orang yang tak masuk akal ketika memenuhi panggilan tugasnya. Entah kenapa, ia dikisahkan dalam legendanya sebagai anggota Paladin yang paling lemah.

Padahal ia sudah menciptakan banyak kisah heroik dalam perjalanan mengarungi dunia…tidak sebatas dunia malah. Ia pun sudah mencapai bulan ketika dunia sudah dijelajahinya. Dari perjalanannya itulah, ia banyak mendapatkan noble phantasm atau Mystic Codes. Sayangnya dalam berbagai literature tidak dikisahkan bagaimana dan di negeri mana ia mendapatkan horn fluet, grimoire, dan golden lance.

Sebetulnya, masih ada satu noble phantasm yang belum disebutkan. Katanya, noble phantasm itu suatu hal yang sulit dipercaya di dunia ini. Karena noble phantasmnya itu sebagai hal yang langka hingga disebut sebagai mitos bahkan dongeng rakyat. Dalam legendanya, noble itu dinamai Hippogriff—which has upper body of an eagle and lower body of a horse.

Meskipun kisah heroiknya begitu banyak, ternyata kesalahan yang diperbuatnya juga sama halnya. Katanya, ia tak pernah menang dalam turnament balapan kuda, malahan ketika turnamen ia selalu jadi korban terkena jebakan dan membuatnya tersesat hingga mencapai bulan. Akan tetapi, ia tak pernah merasa terpukul akibat ulahnya seperti insecure karena kesalahan dan kekalahannya. Nilai lebihnya bagi Astolfo. Ia selalu menganggap kesalahan dan kekalahan adalah bagian dari hidup yang tak perlu dicemaskan.

Noble Phantasm

Pada legendanya Astolfo memang terkenal sebagai anggota Paladin Charlemagne yang lemah. Pandangan ini bermula karena Astolfo kerap kali melakukan kegagalan dan kesalahan di setiap tugasnya. Dan barangkali, karena sikap yang optimsnya itulah ada pandangan miring terhadap Astolfo. Padahal dari segi kahlian dalam bertarung, ia jauh di atas rata-rata paladin Charlemagne.

Ia memiliki banyak noble phantasm.
Ketika Astolfo disummon untuk memenuhi Great Holy Grail War sebagai seorang servant. Ia terlihat lemah dengan sikap yang gegabah. Seperti menyebutkan nama aslinya. Padahal, dalam aturan Great Holy Grail War, menyebutkan nama asli servantnya menjadi hal yang harus dihindari. Karena, nama asli dari servant menjadi informasi bagi servant lain untuk memperoleh kelemahannya. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Astolfo. Sebab, ia memiliki banyak legenda yang mana servant lawan bingung atas kisah aslinya. Terakhir, Astolfo memang tidak punya kelemahan.

Ada di scene Astolfo menghadapi Berseker merah, Spartacus. Ia mengeluarkan Tombak Argalia. Konon ceritanya, tombak ini tidak mematikan seperti Gae Bolg yang serangannga pasti menembus jantung lawan. Kekuatan utama dari tombak ini adalah penentu takdir. Seperti saat Argalia—pemilik tombak awalnya, memenangkan perang dan kontes Jousting.

Ia hanya menyentuhkan ujung tombak pada lawannya saja, dan siapa saja yang disentuh ujung tombak itu, mereka digiring pada kematian, seperti tiba-tiba tertimpa pohon, terjatuh dari kuda dan lainnya.

Beda halnya ketika digunakan oleh Astolfo. Karena ia bukan pemilik asli. Ia hanya dapat menggunakan ‘pengembalian servant pada wujud spiritualnya’. Celakanya, serangan tombaknya tidak bisa ditahan oleh shield. Bahkan, shield yang ditenun oleh energi sihir pun tak berpengaruh. Maka solusinya dengan menghindari serangannya.

Selain Tombak Argalia, ia pun memiliki pedang. Meski pedang itu bukan noble phantasm, tapi kekuatannya setara dengan noble phantasm. Pada legendanya, pedang itu sebagai senjata yang tak ada duplikatnya. Akan tetapi di Fate/Apocrypha, Astolfo tidak menggunakan pedang itu. Ia memberikan pedangnya pada Sieg—homonculus.

Di scene ujung cerita, Astolfo mengeluarkan grimoire Casseur de Logistille. Grimoirenya bisa menetralisir segala jenis serangan sihir. Tapi entah alasannya kenapa. Grimoire itu tidak bisa sembarang waktu dipakai; Hanya pada bulan saat tak terlihat saja. Soalnya, ketika bulan tidak terlihat, Astolfo baru bisa mengingat noble phantasmnya—grimoire Casseur de Logistille.

Tidak seperti servant lain, Astolfo banyak memiliki noble phantasm. Ada satu lagi noble phantasmnya yaitu, Hippogriff. Meski bukan senjat, tapi keberadaan Hippogriff mempengaruhi Astolfo saat menungganginya. Kekuatan Astolfo semakin meningkatkan saaf menaiki Hippogriff; inilah kelebihan servant kelas rider.